TAKSASI HASIL PANEN
Taksasi hasil
tanaman pertanian biasa dilakukan oleh petani untuk memperkirakan jumlah
produksi yang akan diperoleh. Sesungguhnya kegiatan ini mempunyai kepentingan
tertentu, khususnya berkaitan dengan persiapan bila kegiatan panen tanaman
diakukan. Berapa tenaga kerja yang perlu dipersiapkan, dan berapa lama waktu
panen dengan sejumlah produksi yang telah diperkirakan sebelumnya.
Terdapat dua metode
taksasi hasil produksi tanaman yang biasa diakukan oleh petani/pengelola usaha
pertanian, yang secara prinsip adalah sama, yaitu dengan cara mengambil sampel
dari sebagian tanaman.
Metode
Berdasarkan Ubinan
Metode ubinan adalah
cara memperkirakan berapa hasil panen nanti untuk tanaman yang bersifat atau
tergolong berumpun. Kegiatan ini dilakukan agar dalam menghadapi pelaksanaan
panen dan pasca panen tidak mengalami permasalahan, seperti kelengkapan
peralatan panen, rencana pengangkutan hasil panen, penanganan lepas panen dan
kemana serta berapa banyak hasil produksi akan dipasarkan.
Metode ini biasa
dilakukan oleh petani tanaman pangan (padi). Sesungguhnya yang perlu
diperhatikan adalah mengapa untuk mentaksasi hasil tanaman padi dilakukan
dengan metode berdasarkan ubinan. Kalau diperhatikan bahwa tanaman padi adalah
tanaman rumpun dengan jarak yang tidak mudah dipisahkan antara tanaman satu
dengan lainnya. Oleh karenanya untuk tanaman yang memiliki sifat rumpun seperti
halnya tanaman padi dapat dilakukan taksasi hasil berdasarkan ubinan. Misalkan
tanaman jagung, ubi jalar, tomat sayur dsb. Sekalipun demikian juga dapat pula
diterapkan terhadap tanaman yang tidak berumpun. Permasalahannya adalah akan
sangat sulit bila tanaman tersebut memiliki jarak tanam yang cukup besar. Oleh
karena itu billa tanaman tidak berumpun namun jarak tanamnya relatif
pendek/sempit bisa juga dilakukan taksasi hasil produksi dengan metode
berdasarkan ubinan. Misalkan tanaman cabe, terong, tomat buah dll.
Adapun langkah cara
melakukan taksasi berdasarkan ubinan adalah sebagai berikut:
-
Pastikan
luas areal yang akan dipanen.
-
Tentukan
luas dan jumlah ubinan yang akan dipakai
sebagai sample. Luas ubin umumnya cukup ditetapkan ukuran 2 X 2 meter (4 m2).
-
Jumlah
ubinan bisa diambil lebih dari satu ubin dengan tempat yang berbeda. Hal ini
tergantung dari apakah tanaman tersebut homogen ataukah heterogen.
Bila homogen cukup ditentukan satu ubin saja. Bila heterogen (tanaman tidak
merata) bisa diambil lebih dari satu ubin dengan tempat yang tersebar acak.
Misalnya dibagian tepi 2 ubin, ditengah 1 ubin. Jumlah ubin tersebut bias
diperbanyak tergantung dari luasan areal tanaman.
-
Panen
sejumlah sampel yang berupa ubian tersebut dan timbang berat produksinya untuk
setiap sampel/ubin.

Keterangan:
Th = Taksasi hasil
La = Luas areal tanaman
Lu = Luas ubin
Hu = Hasil ubinan
Contoh :
-
Diketahui
luas lahan tanaman padi 10 ha.
-
Sehubungan
dengan luasnya tanaman, maka ditetapkan akan diambil sampel sejumlah lima ubin.
-
Ukuran
luas setiap ubin ditetapkan 5m X 5m = 25 m2
-
Hasil
ubinan adalah sbb:
Nomor Ubin
|
Hasil Produksi (Kg)
|
1
2
3
4
5
|
16
15
12
19
13
|
Rata-rata
|
15
|
-
Taksasi
hasil adalah:
100000 m2
Th = -------------- X 15 kg. = 60.000 kg = 60 ton
25 m2
-
Jadi
kesimpulan bahwa taksasi hasil produksi tanaman padi sebagaimana kasus diatas
adalah 60 ton.
Metode
Berdasarkan Populasi
Metode taksasi
berdasarkan populasi adalah cara memperkirakan berapa hasil panen nanti untuk
tanaman yang bersifat atau tergolong pepohonan. Kegiatan ini dilakukan agar
dalam menghadapi pelaksanaan panen dan pasca panen tidak mengalami
permasalahan, seperti kelengkapan peralatan panen, rencana pengangkutan hasil
panen, penanganan lepas panen dan kemana serta berapa banyak hasil produksi
akan dipasarkan.
Merencanakan Taksasi berdasarkan populasi biasa dilakukan
untuk tanaman yang memiliki jarak tanam lebar sehingga antar tanaman dapat
dipisahkan. Dengan terpisahnya antar setiap tanaman, maka dapat dengan mudah
dalam pengambilan sampel berdasarkan populasi. Tanaman yang biasa dilakukan
taksasi hasil adalah tanan tahunan seperti karet, kopi, buah-buahan dan
lain-lain. Namun tidak menutup kemungkinan untuk tanaman semusim dilakukan
taksasi berdasarkan populasi, seperti tanaman cabe, tomat dan lain sebagainya.
Adapun langkah cara
melakukan taksasi berdasarkan populasi adalah sebagai berikut:
-
Pastikan
luas areal tanaman yang akan dipanen.
-
Pastikan
jarak tanam tanaman.
-
Perkirakan
prosentase tumbuh tanaman.
-
Tetapkan
sejumlah tanaman yang akan dipakai sampel.
Jumlah sampel ini
tergantung keadaan homoginitas kesehatan tanaman dan banyaknya populasi
tanaman. Semakin banyak populasi tanaman dan atau kurangnya tingkat homoginitas
kesehatan tanaman maka sebaiknya sampel yang ditetapkan lebih banyak dan
tersebar tempat tumbuhnya.
-
Panen tanaman yang sudah ditetapkan sebagai sampel dan timbang hasil
produksinya untuk setiap sampelnya.

-
Rumus
Perhitungan:
Keterangan:
Th = Taksasi hasil
La = Luas areal tanaman
Hs = Rata-rata hasil sampel tanaman
Pt = Prosentase tumbuh tanaman
Jt =
Jarak tanam
Contoh:
-
Diketahui
luas lahan tanaman mangga 10.000 m2.
-
Jarak
tanam adalah 5m X 5m = 25 m2
-
Sebagai
sampel tanaman ditetapkan tiga pohon mangga, yaitu dua dibagian tepi lahan dan
satu pohon ditengah lahan.
-
Prosentase
tumbuh dari sejumlah pohon yang ditanam dilahan tersebut adalah 90%
-
Hasil
produksi setiap sampel tanaman adalah sbb:
Nomor sampel
|
Hasil Produksi (Kg)
|
1
2
3
|
15
45
30
|
Rata-rata
|
30
|
-
Taksasi hasil adalah:
10000 m2 X 30 kg X 90%
Th =
----------------------------------- =
10.800 kg = 10,8 ton
25 m2
-
Jadi
kesimpulan bahwa taksasi hasil produksi tanaman mangga sebagaimana kasus diatas
adalah 10,8 ton.
PENENTUAN SAAT PANEN
Menentukan saat
panen adalah menetapkan saat panen yang tepat sehingga tidak terjadi atau
paling tidak mengurangi kendala yang mungkin nanti dihadapi pada saat panen
atau pasca panen. Kegiatan ini perlu dilakukanan dengan
pertimbangan-pertimbangan yang berkaitan dengan iklim, kematangan hasil dan
faktor-faktor lain seperti ketersediaan peralatan, perlengkapan, tenaga kerja dan
pengangkutan hasil produksi. Kegiatan ini penting dilakukan bagi petani, baik
untuk tanaman semusim (tanaman pangan dan hortikultura) maupun tanaman tahunan
(tanaman buah-buahan dan tanaman industri). Jika petani tidak menentukan saat
panen dari usaha pertaniannya maka kemungkinan petani akan menghasilkan
produksi yang tidak maksimal, baik kualitas maupun kuantitasnya. Akibatnya
keuntungan petanipun akan menjadi tidak maksimal. Kegiatan penentuan saat panen
ini umumnya petani tidak melakukan, namun sesungguhnya dengan tanpa disadari
bahwa beberapa petani telah melakukan kegiatan ini.
Pertimbangan Menentukan Saat Panen
Sebagaimana
kepentingan perlunya ditentukan saat panen adalah mengacu dari berbagai
pertimbangan-pertimbangan yang merupakan dasar untuk mengambil keputusan
mengapa tanaman harus segera dipanen atau ditunda. Adapun
pertimbangan-pertimbangan tersebut antara lain:
·
Adanya
kriteria yang diberlakukan bagi tanaman untuk siap dipanen sesuai dengan
kebutuhan produksinya. Apakah hasil panen akan dijual sesuai kriteria
permintaan pasar atau sesuai kriteria pemanfaatan hasil produksi, misalkan
untuk benih.
·
Pertimbangan
waktu yang berkaitan dengan keadaan cuaca/iklim pada saat panen, baik untuk
kemudahan pada saat pelaksanaan panen ataupun karena pengaruh ciaca/iklim
terhadap sifat hasil produksi yang akan dipanen.
·
Pertimbangan
umur tanaman atau umur buah, dimana untuk beberapa jenis tanaman sudah
mempunyai ketentuan pada umur tertentu sudah harus dipanen.
Pengaruh Saat Panen Terhadap Produksi
Saat panen sangat
berpengaruh terhadap hasil produksi baik kualitas maupun kuantitas. Sebagai
akibat berkurangnya keuntungan yang seharusnya diperoleh bagi petani.
·
Dari
segi kualitas jelas menentukan banyaknya hasil produksi yang memungkinkan dapat
dijual dengan harga yang memuaskan per satuan produksi.
·
Dari
segi kuantitas bahwa jumlah produksi tidak maksimal atau dimungkinkan adanya
sejumlah produksi yang hilang pada saat panen.
·
Secara
ekonomis adalah menentukan terhadap keuntungan maksimum menurut kondisi pasar
tertentu. Oleh karena itu sekalipun hasil produksi belum saatnya untuk dipanen,
namun menurut pasar kondisi produksi pada saat itu dapat memberikan harga dengan keuntungan
maksimum.
Kriteria Penentuan Saat Panen
Sebagaimana
diuraikan diatas bahwa ada beberapa kriteria yang sebaiknya diikuti untuk
menentukan saat panen. Hal ini tergantung dari apakan hasil produksi akan
langsung dijual atau akan dijadikan benih. Namun secara umum kriteria yang
biasa digunakan bagi para petani adalah sebagai berikut:
1).
Berdasarkan
kenampakan (visual)
Beberapa jenis
komoditas dapat ditentukan saat panennya berdasarkan kenampakan baik kenampakan
dari buah, batang ataupun daunnya. Misalnya; warna, keadaan kulit, ukuran,
bentuk dsb. Berdasarkan kriteria ini adalah sangat mudah untuk dilakukan karena
dapat dilihat secara langsung.
2).
Berdasarkan
fisik (morphologisnya)
Beberapa jenis
komoditas tanamam dapat dilihat dari segi fisik atau morphologisnya, Misal;
tingkat kekenyalan, berat persatuan buah/biji,
keriput atau bernas, dan lain-lain. Contoh buah kelapa, kalau tua akan
mengecil Penentuan panen dengan metode ini sangat subyektif dan juga
dipengaruhi faktor lingkungan.
3).
Berdasarkan
analisis kimia
Sebagian produksi
diambil sebagai sampel untuk dilakukan analisis kimia di laboratorium. Dari
hasil analisis tersebut akan dapat menentukan sifat kimiawi dari hasil produksi
yang sedang diuji dan barulah dapat ditentukan apakah tanaman sudah bisa
dipanen atau menunggu beberapa hari lagi sesuai dengan persyaratan kualitas
produksi yang dikehendaki.
4).
Berdasarkan
kadar air .
Kriteria ini biasa
diterapkan untuk tujuan tertentu; misalnya untuk penghasil
produksi benih. Penentuan panen dengan metode ini
dapat lebih obyektif karena panen baru dilakukan jika biji telah mencapai kadar alr tertentu.
Meskipun demikian kadar air benih sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan karena biji selalu
dalam keadaan equilibrium dengan llingkungan sekitarnya.
5).
Berdasarkan
fisiologi .
Sebagaimana
penentuan kadar air yang juga dilakukan dilaboratorium, sifat-sifat kimia yang
biasa ingin diketahui adalah kadar gula dan tingkat keasamannya. Misalnya pada
tanaman tebu dan karet merupakan tanaman sepesifik yang memerlukan analisis ini
untuk menentukan saat panen.
6).
Berdasarkan
Umur tanaman.
Pada umumnya adalah
tanaman semusim atau tanaman yang hanya satu kali periode produksi langsung
mati. Kelemahan penentuan saat panen berdasarkan umur adalah bahwa umur tanaman
(mulai sebar benih sampai panen) sangat dipengaruhi oleh lingkungan sehingga
sangat bervariasi. Pada umur tertentu ternyata tanaman belum siap panen,
padahal seharusnya sudah harus dipanen. Misalkan jagung manis dapat dipanen
setelah umur 70 hari sejak tanam, semangka 64 – 80 hari sejak tanam, dan
lain-lain.
MEMANEN HASIL TANAMAN
Budidaya tanaman
merupakan kegiatan bercocok tanam yang tujuan utamanya adalah untuk
menghasilkan produk tanaman, baik berupa umbi, batang, getah, bunga, daun, dan
buah/biji. Suatu jenis tanaman umumnya hanya diambil satu bagian dari tanaman
yang dianggap sebagai hasil produksinya. Namun ada juga yang dapat diambil
lebih dari satu bagian dari tanaman. Sekalipun demikian hanyalah satu bagian
saja yang dianggap sebagai hasil produksi utamanya. Upaya untuk mengambil
bagian dari tanaman yang merupakan tujuan utama budidaya tanaman tersebut disebut
Memanen/Harvesting. Setiap tanaman
memiliki karakteristik yang berbeda-beda, baik dari karakteristik tanamannya
maupun hasil produksinya. Oleh karena itu dalam memanen tanaman juga mempunyai
cara dan peralatan yang berbeda-beda pula sesuai dengan karakteristik tanaman
dan hasil produksinya.
Karakteristik
Tanaman
Tanaman budidaya
pertanian memiliki berbagai sifat dan karakteristik yang bermacam-macam.
Umumnya tanaman budidaya ini dibedakan antara tanaman semusim dan tanaman
keras/tahunan.
1). Tanaman
Semusim
Tanaman semusim adalah tanaman yang dibudidayakan
hanya untuk diambi hasilnya satu kali produksi selama masa hidup tanaman
tersebut. Adapun ciri-ciri tanaman semusim adalah sbb:
§ Umur tanaman antara 2 s/d 6 bulan saja, tergantung
ketahanan hidup tanaman tersebut.
§ Tanamannya berbatang lunak dengan pertumbuhannya
tumbuh tegak individu, tumbuh tegak berumpun, dan tumbuh menjalar.
§ Hasil produksinya bisa berupa umbi, daun, bunga,
dan buah/biji.
§ Musim panennya adalah tergantung iklim karena
keterbatasan ketersediaan air sebagai air pengairan yang sangat diperlukan
tanaman. Bia air pengairan cukup untuk tanaman budidaya tersebut, maka tanaman
bisa dibudidayakan sepanjang tahun dan dapat dipanen kapan saja.
2). Tanaman
Keras/Tahunan
Tanaman
keras/tahunan adalah tanaman yang dibudidayakan untuk diambil hasilnya lebih
dari satukali semasa hidupnya. Adapun ciri-cirinya adalah sbb:
§ Umur tanaman bisa mencapai 50 tahun atau bahkan
lebih.
§ Tanamannya berbatang keras dengan pertumbuhannya
tumbuh tegak individu.
§ Hasil produksinya adalah berupa batang, daun, dan
atau buah.
§ Musim panennya adalah musiman atau sepanjang
tahun.
Cara
Memanen
Cara panen hasil tanaman adalah bervariasi, tergantung dari
karakteristik tanaman dan hasil produksi yang akan diambilnya. Secara umum
panen hasil tanaman dapat dilakukan sebagaimana diuraikan pada tabel dibawah
ini.
KARAKTERISTIK
HASIL TANAMAN
|
CARA MEMANEN
|
CONTOH TANAMAN
|
A.
TANAMAN
SEMUSIM
|
|
|
1.
Umbi
|
Mencangkul sekitar tanaman dengan hati-hati
|
Ketela rambat, Singkong, dll
|
2.
Batang dan
daun
|
Mencabut/memotong tanaman
|
Sawi, Seladri, Bawang daun, dll
|
3.
Bunga
|
Memotong/memetik tangkai bunga
|
Anggrek,
|
4.
Buah
|
Memetik buah
|
Tomat, jagung dll
|
5.
Biji
|
Memotong tanaman kemudian merontokan biji
|
Padi
|
B.
TANAMAN
KERAS/TAHUNAN
|
|
|
1.
Batang
|
Memotong/menebang
|
Pohon Jati, Enau, rotan
|
2.
Getah
|
Menyayat kulit batang/pohon
|
Karet
|
3.
Buah
|
Memetik
|
Jeruk, apel
|
Untuk memetik buah atau bunga tidak diperkenankan asal petik. Hal ini
akan mempengaruhi masa .berbunga berikutnya. Mungkin akan lama lagi berbunga
kalau cara memetiknya sembarangan. Perlu diperhatikan adalah dalam memetik
jangan sampai bagian titik tumbuh bunga ikut terpetik. Petikalah tepat pada
tangkai buah dengan hati-hati dan tidak terlalu banyak goyangan agar tanaman
tidak stres. Bisa dengan cara memutar tangkai buah atau menarik buah kearah
atas. Namun yang paling baik adalah memotong tangkai buah dengan pisau atau
gunting yang tajam. Secara umum bahwa panen tersebut diatas dapat dilakukan
secara konvensional, dan dengan menggunakan teknologi.
![]() |
Bagian yang digunting pada buah yang bertangkai
1). Secara
Konvensional
Secara konvensional adalah yang biasa dilakukan oleh para petani pada umumnya, yaitu cukup menggunakan tangan dan beberapa peralatan/ perlengkapan sederhana. Cara ini banyak menggunakan tenaga kerja dan kerusakan/ kehilangan hasil produksi masih mungkin terjadi bila diakukan dengan menggunakan tenaga kerja yang kurang profesional.
2).
Dengan Teknologi
Cara ini adalah lebih modern dengan menggunakan mesin pemanenan. Keuntungan cara ini adalah kegiatan proses panen bisa dilakukan dengan lebih cepat, sedikit menggunakan tenaga kerja, dan kerusakan/kehilangan bisa lebih ditekan.
Peralatan
dan perlengkapan Panen
Peralatan dan perlengkapan panen
berfungasi untuk membantu dalam melakukan pemanenan hasil tanaman. Peralatan
dan perlengkapan panen tersebut
dibutuhkan sesuai karakteristik tanaman dan hasil tanaman yang akan dipanen,
serta cara menanennya dari masing-masing jenis tanaman. Sebagaimana tujuan
petani/pengelola usaha pertanian adalah untuk mendapatkan hasil panennya dengan
kualitas dan kuantitas yang optimal tanpa adanya kerusakan dan kehilangan
selama proses panen, maka peralatan dan perlengkapan panen ini ditentukan dan
dipilih yang benar-benar dapat membantu dalam proses pemanenan hasil tanaman.
Macam peralatan dan perlengkapan panen ini sangat
spesifik, tergantung dari spesifikasi hasil panen, apakah hasil panen berupa
umbi, batang, getah, daun, bunga, buah, dan biji.
Secara umum peralatan dan perlengkapan panen yang
biasa digunakan adalah:
1). Umbi
Hasi
panen berupa umbi biasanya hanya diperlukan alat untuk menggali umbi tersebut,
yaitu cangkul.
2). Batang
Tanaman
yang diambil batangnya adalah pohon yang biasa digunakan untuk bangunan,
misalnya pohon jati. Alat yang digunakan adalah Gergaji (sinso), tai dsb.
3). Getah

Sadapan
pohon karet
4). Daun

Arah petikan
5). Bunga
Hasil tanaman yang berupa bunga
cukup dipetik, misalnya tanaman bunga anggrek, zebra dll. Untuk memetik bunga
ada juga yang memerlukan bantuan alat pisau. Adapun perlengkapan yang perlu
dibawah adalah keranjang sebagai tempat hasil petikan bunga.
![]() |
||||
|
6). Buah

Galah atau sogrok
7). Biji

![]() |
|||
![]() |
|||
Arit, ani-ani dan alat
perontok padi
MENGANGKUT HASIL TANAMAN PERTANIAN
Mengangkut
hasil panen dari kebun ke gudang adalah merupakan bagian dari kegiatan memanen
hasil tanaman pertanian. Kegiatan ini juga berpengaruh terhadap hasil panen,
terutama terhadap kualitas hasil panen. Dengan cara pengangkutan yang sembarang
saja menyebabkan tingkat kerusakan hasil panen lebih besar. Oleh karenanya
upaya mengangkut hasil panen tanaman pertanian perlu pula adanya perhatian
khusus.
Pertimbangan Menentukan Cara Pengangkutan
1). Karakteristik Hasil Panen
Setiap hasil panen tanaman pertanian
memiliki karakter yang berbeda-beda, baik dari segi bentuk maupun sifatnya.
§ Bentuk hasil Panen Tanaman
Hasil panen tanaman dapat berupa
umbi, batang, getah, daun, bunga, dan
buah. Sesuai dengan karakter ini maka alat dan perlengkapan pengangkutannya
harus disesuaikan, terutama berkaitan dengan ukuran dari hasil tanaman
tersebut. Sebagaimana hasil tanaman sayuran akan berbeda alat dan perlengkapan
pengangkutannya dengan hasil tanaman yang berupa buah.
§ Sifat Hasil Panen
Sifat hasil panen tanaman juga
bervariasi, dari hasil tanaman yang mudah rusak sampai hasil tanaman yang tahan
atau tidak mudah rusak. Kemungkinan penyebab kerusakan hasil tanaman pertanian
semasa pengangkutan adalah:
-
Pengaruh iklim atau cuaca.
Beberapa jenis hasil tanaman akan
terpengaruh terhadap iklim atau cuaca. Terlebih lagi bila jarak kebun ke gudang
cukup jauh. Oleh karena itu alat angkut yang diperlukan adalah yang mampu
mempertahankan kualitas hasil panen selama pengangkutan ke gudang.
-
Kesesuaian alat pengangkutan
Alat angkut hasil panen tanaman
pertanian memiliki spesifikasi tertentu, sesuai dengan hasil panen tanaman apa
yang akan diangkut. Namun umumnya petani tidak memiliki alat angkut yang
spesifik, sehingga mereka menggunakan suatu alat angkut hasil panen tanaman
pertanian yang serba guna.
2). Jarak Pengangkutan
Jarak pengangkutan juga menentukan
terhadap tingkat kerusakan hasil panen tanaman pertanian. Sebagaimana tanaman
karet yang umumnya jarak kebun ke gudang/pabrik relatif cukup jauh, sementara
hasil panennya akan cepat menggumpal sebelum dilakukan proses pengolahan lebih
lanjut. Dengan demikian untuk getah karet ini memerlukan perlakuan khusus
selama pengangkutan sampai kegudang. Demikian pula alat transpotasinya juga
didesain secara khusus.
3). Medan Lapangan.
Tidak setiap tanaman dibudidayakan
pada lahan yang mudah terjangkau dengan kendaraan. Umumnya di Indonesia tanaman
pertanian dibudidayakan pada lahan-lahan yang medannya bergelombang dan
jalanpun hanya merupakan jalan setapak serta belum ada pengerasan jalan. Kalau
ada baru dengan pengerasan batu yang tidak diratakan. Dengan kondisi medan
lapangan yang demikian akan mempengaruhi jenis atau macam alat dan perlengkapan
pengangkutan hasil panen tanaman tersebut.
4). Tenaga Kerja
Untuk di
Indonesia jumlah tenaga kerja pertanian masih belum menjadi faktor pembatas
pada kegiatan budidaya tanaman pertanian. Mungkin permasalahannya adalah
tingkat pengetahuan tenaga kerja, khususnya dalam hal bagaimana cara mengangkut
hasil panen tanaman pertanian yang benar. Di negeri lain dimana tenaga kerja
pertanian sudah berkurang dan cukup mahal, maka pemanfaatan teknologi
penggunaan alat mesin pertanian merupakan pertimbangan untuk mengatasi sedikit
dan mahalnya tenaga kerja dibidang pertanian.
Alat/perlengkapan Pengangkutan
Secara
konvensional petani tidak terlalu mempermasalahkan alat dan perlengkapan
pengangkutan hasil panen tanaman pertaniannya. Miniamalnya cukup dengan
menggunakan karung-karung dan dipanggul atau digendong dari kebun hingga
kerumahnya. Namun untuk hasil panen tanaman tertentu dengan jarak yang jauh dan
jumlahnya cukup besar, maka petani sudah mulai mempertimbangkan alat dan
perlengkapan pengangkutan yang mungkin digunakan. Pertama kali hanya berpikir
agar hasil panen tanamannya bisa sampai kerumah/gudang. Tetapi setelah adanya
persyaratan dari permintaan pasar tentang bagaimana kualitas yang diinginkan
pasar, petani mulai berpikir bagaimana cara mengangkut hasil panennya agar
hasilnya tidak banyak rusak dan laku mahal. Berbagai macam alat dan perlengkapan
untuk mengangkut hasil panen tanaman pertanian adaah sebagai berikut:
1). Kendaraan Pengangkut
Umumnya hasil panen tanaman pertanian diangkut
dalam dua tahap hingga sampai ke gudang atau rumah petani.
Pada tahap pertama adalah mengangkut hasil panen
dari kebun sampai ke tempat pengumpulan. Tempat pengumpul-an ini biasanya
dipilih dipinggir jalan atau
tempat-tempat yang terjangkau oleh kendaraan roda empat atau pedati.
Alat transpotasi yang digunakan adalah:
§ Tandu/keranjang/karung yang dibawah oleh tenaga
manusia sebagai pengangkut. Alat ini digunakan bila jalan yang dilalui adalah
jalan setapak atau bahkan sesekai menyeberangi sungai.
§ Gerobag dorong/tarik yang didorong atau ditarik
oleh tenaga manusia. Alat pengangkut ini digunakan bila jalan yang dilalui
cukup untuk dilewati gerobag dorong/tarik. Kurang lebih lebar jalan adalah 1
meter.
§ Sepeda atau sepeda motor. Jalan yang dilalui
adalah yang memungkinkan dilewati kendaraan ini, yaitu lebar jalan lebih kurang
1 meter.
§ Perahu kecil atau rakit, bila jalan yang
memungkinkan untuk mengangkut hasil panen hanyalah sungai yang menghubungkan
antara kebun dengan tempat pengumpulan.
Tahap kedua
adalah mengangkut hasil panen dari tempat pengumpulan ke gudang, kerumah
petani, dan atau langsung ke pabrik. Umumnya yang digunakan mengangkut hasil
panen dari tempat pengumpulan sampai kegudang/ rumah petani/ langsung ke pabrik
adalah menggunakan pedati yang ditarik oleh seeokor atau dua ekor lembu,
kendaraan truk atau colt pick up. Untuk hasil tanaman tertentu digunakan alat
transpotasi khusus, seperti getah karet, sayur mayur dll.
2). Alat Bantu Pengangkutan
Alat bantu
untuk mengangkut hasil panen tanaman adalah alat yang digunakan untuk
memindahkan hasil panen dari tumpukan ditanah ke atas kendaraan transpotasi.
Peralatan/perlengkapan ini meliputi sekop, karung, keranjang, ember. Untuk
hasil panen yang cukup banyak dan berat digunakan Alat pengangkut hidrolic.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar